Hari pertama MPLS, Luqman masih berusaha menyesuaikan diri dengan suasana SMK Rota. Dari pengeras suara, terdengar salah satu anggota osis yang bertugas memegang mic memanggil satu per satu jurusan untuk berbaris.
“Jurusan DKV1, silakan berkumpul di sebelah kanan lapangan!” timpal osis sambil memegang mic
Luqman segera melangkah, membawa tas ransel yang terasa lebih berat dari biasanya. Hatinya berdebar. Jurusan Desain Komunikasi Visual bukan pilihan orang tuanya—ini murni mimpinya sendiri. Sejak SMP ia suka menggambar, mendesain poster, hingga mengedit foto di laptop seadanya.
Di barisan DKV1, ia bertemu orang-orang baru: Alif, yang ternyata satu jurusan dengannya. Ia membawa sketchbook penuh coretan tokoh kartun yang menggemaskan.
Arfan, pendiam tapi sudah jago desain digital. Katanya ia pernah menang lomba poster tingkat kabupaten.
Ikhsan, yang sebenarnya bercita-cita masuk Teknik, tapi akhirnya diarahkan ke DKV. Ia sering jadi penghibur di antara suasana tegang.
mpls smk rota terasa berbeda. Selain baris-berbaris, mereka juga diberi tugas membuat logo kelompok dan poster kreatif bertema semangat pelajar SMK. Luqman dan timnya bekerja sama, walau sempat berdebat karena ide mereka berbeda-beda.
“Kalau kita bikin desain yang keren tapi nggak ada maknanya, percuma,” kata Arfan dengan serius.
“Ya tapi kalau terlalu kaku, siapa yang mau lihat?” balas Alif.
Ikhsan langsung menimpali, “Udah, bikin aja gambar orang semangat sambil bawa nasi kotak, biar relatable!”
Semua tertawa. Di situlah Luqman merasa, walau baru kenal, suasana DKV1 sudah seperti keluarga kecil.
Namun, tantangan terbesar muncul saat salah satu kakak tingkat dari jurusan lain mencoba meremehkan mereka.
“Anak DKV paling kerjaannya cuma gambar-gambar. Nggak sekeras jurusan mesin atau Keramik,” sindirnya sombong.
Luqman terdiam, tapi hatinya berkobar. Ia tahu, DKV bukan sekadar menggambar. Ini tentang menciptakan ide, menyampaikan pesan, dan membuat karya yang berbicara lebih dari kata-kata.
Hari-hari MPLS itu menjadi awal, di mana Luqman bertekad: “Aku akan buktikan kalau anak DKV1 juga bisa berdiri sejajar dengan siapa pun di SMK Rota.”
(Bersambung) sampai besok awal masuk sekolah
Pagi itu, langkah Luqman terasa berat sekaligus bersemangat. Dengan seragam baru yang masih kaku, ia berdiri di depan gerbang SMK Negeri 1 Rota. Bangunan megah, mural warna-warni di dinding, dan wajah-wajah baru yang bertebaran di halaman membuat jantungnya berdebar. Hari itu adalah awal segalanya—awal dari kehidupannya sebagai siswa jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV 1).
Di lantai dua, ia menemukan ruang kelasnya. Pintu bertuliskan “DKV 1” terbuka lebar. Ruangan masih wangi cat baru, meja dan kursi berjumlah 35 set tersusun rapi, dan cahaya matahari menembus kaca jendela besar. Siswa mulai berdatangan, ada yang sibuk menunduk, ada yang ngobrol kecil, ada juga yang masih bingung mencari kursi.
Luqman duduk di barisan tengah. Dari sana, ia mulai memperhatikan beberapa wajah yang tampaknya akan sering ia jumpai tiga tahun ke depan.
Ada Arfan, pendiam dan agak coll/dingin yang duduk di depan Luqman. Ia jarang bicara, hanya sesekali mencatat di buku, tapi aura misteriusnya membuat orang penasaran.
Ada Alif, si paling ceria. Dari awal masuk kelas, ia sudah tertawa lebar, menyapa semua orang, dan dengan cepat membuat suasana tidak terlalu tegang.
Ada Ikhsan, rapi dan pintar. Cara bicaranya teratur, penuh percaya diri, membuatnya langsung terlihat menonjol.
Ada pula Fino, yang duduk santai di kursi belakang. Gayanya santai, mudah berbaur, dan dari cara ia bercanda, jelas sekali dia tipe anak yang gampang akrab dengan siapa saja.
Dan tentu saja Tyo, si agak cabul. Ia sudah bikin beberapa siswa ngakak gara-gara komentar isengnya yang kocak—kadang kelewat frontal, tapi entah kenapa suasana jadi cair karenanya.
Dan ada banyak siswa lain nya, yang belum bisa masuk di dalam novel, karena belum saat nya masuk novel☺, tunggu saja pasti bakal di masuk in sama admin satu persatu ya.
Tak lama kemudian, pintu kelas terbuka. Bu Nurwantini atau di panggil saja bu Nur, wali kelas DKV 1, masuk dengan senyum hangat. Suasana langsung hening.
“Selamat pagi, anak-anak. Mulai hari ini kalian resmi jadi bagian dari keluarga besar DKV SMK Rota,” ucapnya lembut.
Setelah perkenalan singkat, satu per satu siswa diminta maju ke depan untuk memperkenalkan diri.
Alif maju dengan percaya diri. “Nama saya Alif. Orang bilang saya paling ceria, jadi kalau kelas ini butuh hiburan, jangan ragu cari saya.” Kelas pun tertawa, Bu Nur ikut tersenyum.
Ikhsan menyusul, tenang dan agak santai. “Nama saya Ikhsan. Saya suka belajar, terutama tentang desain dan teknologi.” Jawaban singkat, tapi langsung bikin teman-temannya kagum.
Ketika giliran Arfan, ia maju pelan. Dengan Coll/Dinginnya ia berkata, “Saya Arfan. Hobi saya menggambar.” Lalu ia kembali duduk. Sunyi, tapi justru membuat teman-temannya penasaran dengan sosoknya.
Fino melangkah ke depan dengan gaya santai. “Saya Fino. Intinya, kalau kalian butuh teman ngobrol atau partner asik, gue orangnya.” Ia mengedipkan mata, membuat seisi kelas tertawa.
Tyo maju setelahnya, senyum nakal tersungging di wajahnya. “Nama saya Tyo. Saya suka bercanda, tapi… ya, kadang bercandanya agak ‘dewasa’ dikit. Jadi, maaf kalo ada yang baper, hehehe.”
Seketika kelas pecah dengan tawa keras. Bu Nur hanya menggeleng sambil tersenyum tipis, mencoba tetap tegas tapi jelas menikmati kelucuan anak didiknya.
Saat giliran Luqman, ia maju dengan sedikit gugup. “Nama saya Luqman. Saya suka menggambar dan berharap bisa jadi desainer profesional.”
Teman-teman bertepuk tangan, dan Luqman merasa hangat—seolah ia benar-benar diterima.
Menjelang siang, Bu Nur membagi kelas menjadi beberapa kelompok untuk permainan perkenalan. Tak disangka, Luqman berada satu kelompok dengan Arfan, Alif, Ikhsan, Fino, dan Tyosipaling
Tugas mereka sederhana: menggambar sesuatu yang mewakili diri masing-masing.
Alif menggambar matahari tersenyum. “Ini aku, selalu ceria.”
Ikhsan menggambar buku dan laptop. “Belajar adalah hobiku.”
Arfan menggambar pohon dengan banyak cabang, indah tapi sunyi.
Fino menggambar gitar dan headphone. “Karena hidup harus dibikin santai.”
Tyo menggambar wajah kartun dengan ekspresi aneh, yang bikin semua ngakak. “Ya beginilah, agak ngawur tapi bikin rame.”
Luqman sendiri menggambar pensil dan kertas kosong, simbol dari banyaknya mimpi yang ingin ia tulis.
Permainan sederhana itu membuat mereka semakin akrab. Luqman mulai menyadari: tiap temannya punya peran sendiri dalam membentuk suasana kelas. Ada yang membawa keceriaan, ada yang membawa kecerdasan, ada yang membawa kelucuan, ada yang membawa ketenangan, ada pula yang membawa keasikan.
Saat bel pulang berbunyi, suasana kelas jauh berbeda dari pagi tadi. Yang tadinya canggung, kini berubah jadi tawa, obrolan, dan janji untuk saling mengenal lebih jauh.
Luqman melangkah keluar kelas dengan senyum. Dalam hati ia berkata:
“Ya, ini baru awal. Awal dari cerita panjang kami di DKV 1, SMK Rota.”
(Bersambung), untuk teman-teman yang belum saya masuk in nama nya sabar Ya,
Jangan lupa masuk saluran/channel ini agar mendapatkan informasi update novel kedepannya
📢 Join Saluran WhatsApp